Laman

Kamis, 29 Mei 2014

kembali?

Gundah
Gelisah
Resah
Rasa yang sedang menyelimuti hati saat ini
ku sedang merindu
Merindu yang pernah ada dalam hati lalu tinggalkan pergi
Merindu yang telah pergi menghilang lalu tak kembali
namun aku tak bisa jelaskan apa atau bahkan siapa
tapi..
inginku menanti apa yang ku rindukan kini kan kembali
bila esok kembali kan ku jaga
bila esok kembali kan ku peluk erat agar tak pergi lagi
aku disini selalu menanti walau tak ada pinta tuk haruskan ku menanti
aku disini kan berdoa agar yang ku rindu kan kembali..

Rabu, 28 Mei 2014

Today is your day

Tengah malam lagi aku menuliskannya untukmu
Tapi kali ini berbeda dari malam sebelumnya
Ini adalah harimu, iya milikmu
Memang.. malam ini tak secerah malam kemarin,
udara yang tak sehangat udara yang kau rasa kemarin
 tak ada rembulan yang biasa kau lihat kemarin
 tak ada sang bintang yang berterbaran menampakan kemerlipnya dilangit kemarin
tapi..
masih ada sang hujan yang temani tengah malam di harimu
sang hujan yang membawa udara nan sejuk menyelimuti tengah malam di lelapmu
suara gemuruh dari langit semoga menjadi doa tuk kebahagiaanmu
dan masih ada sang fajar yang menantimu hingga senja

kini usiamu kian bertambah, keduapuluhtahun sepertinya
ah.. terlihat sekali aku adalah sosok baru dihidupmu
tapi tetap ku pinta padaNya, di dalam tiap bait doaku di harimu kini
semoga engkau menjadi anak yang soleh yang sayang terhadap kedua orang tua, serta Allah menambahkan rahmat dan ridhonya untukmu
Dan kelak apa yang kau impikan cita-citakan menjadi seorang yang mengerahkan sebagian untuk negara Indonesia ini tercapai

Ku harap ditahun selanjutnya aku masih bisa mengenalmu, menyapamu, atau bahkan bertemu 
maaf barisan kata yang masih tak beraturan makna disetiap katanya. aku gagal, aku tak mahir merangkainya.

Tapi dari semua isi di benakku, ku ingin tuk tuliskan “Selamat ulang tahun ya untukmu, Barakallah”

Rabu, 02 April 2014

harusnya malu!

Mungkin ku terlapau jauh berangan kau kan jadi seperti yang ku mau
Yang mencitai ku karena sang ilahi
Kau begitu mudah tuk ucap mencitaiku karenaNya
namun kau tak benar-benar lakukan yang sebagaimana mencitai atas karena-Nya

suatu hari ku tanya pada diri
apakah dirimu yang kelak kan dampingi?
Harusnya malu pada diri
Karena terus pertanyakan hal yang takan ku temui jawabnya
Jika ku masih berdiri pada titik yang sama
Jika Ku masih menetap pada kehidupan yang sama
Tak mencoba tuk hijrah
Tak mencoba tuk pantaskan diri
Tuk dapat bersanding dengan seorang yang di ridhoi

Selasa, 01 April 2014

Maafkan aku dan perasaanku

Kini terasa kian jauh
seperti saat awal bertemu
bukan karna merasa jenuh
namun sudah terlapau jauh tuk saling mengenal hingga bertemu

Maafkan sikapku terhadapmu
Bukan maksudku tuk mengakhiri pertemanan antara aku dan kamu
Tapi ku tak ingin ada fitnah diantara kita
Karna kedekatan diantara kita yang terbilang cukup lama

Awal yang hanya bercanda gurau mengucap rasa
tak terpikir pula tuk menaruhkan rasa suka
tapi keadaan berbeda ditiap harinya
semakin harinya semakin berbeda ku menempatkan rasanya

saat mencoba tuk menjauh
ditempat lain ku menceritakan hal kecil tentangmu
buatku jadi menggali ingatan ketika dimana saat bersama denganmu
hingga terbesit rindu kan hadirmu

rindu tuk ucap sapa padamu
rindu bercanda tawa denganmu
rindu semua caramu terhadapku
ah tidak ..aku  benar-benar rindu akan semua tentangmu

Bagaikan menumpahkan air dari wadah besar ke gelas kaca
Perasaan kian terisi ditiap harinya
Hingga buat bantinku bergejolak
Dimana ku Ingin ungkap, namun kan jadi sia-sia semata

Memang ku tak tahu apa yang kau rasa
Tapi Ku juga tak ingin tahu apa yang kau rasa
karena ku mengerti, ku sadari
kita dibatasi oleh syariat dari sang ilahi

maaf, aku  yang tak bisa menempatkan rasa diantara pertemanan kita
Yang tak bisa perjuangkan rasa menjadi biasa
Hingga biarkan rasa menjadi luka yang tak pernah kau buat sengaja
Maafkan aku..

bukan aku?

Yang dahulu dekat sekarang jauh
Yang dahulu jauh sekarang mendekat
Keadaan yang tak terduga, tak terkira akan apa yang terjadi kedepannya
Kini kita semakin jauh
Akupun merasa sikapmu sudah berbeda dari biasanya
Mungkin ini saatnya
Aku harus terbangun dari anganku
Kau terlalu tinggi untuk ku gapai
Bukan ku tak ingin berjuang, tapi ku tahu diri
Karna kau pantas mendapat yang sempurna menyempurnakan
Bukan aku

Berkembang Mekar Berduri

Tersadar kini
Ku mengerti yang selama ini kurasa dan ku pertanyakan
ternyata kau benar sudah bersama yang lain, walau memang itu bukan dalam ikatan yang sakral
tapi aku sadari dengan keberadaanku ini
aku yang sudah melewati batas rasaku terhadapmu
seperti terlampau jauh terbang tinggi, lalu diatas sana kau patahkan sayapku hingga buatku terjatuh

memang hati seorang wanita begitu mudah tuk labuhkan rasa
seperti aku yang melabuhkan rasa terhadapmu
terhitung 4 bulan lamanya mengenalmu
berawal tanpa niat tuk menorehkan rasa, namun saat perlahan ingin menjauh dan kaupun begitu disitulah ku baru merasa
tentang  yang selama ini tak ku sadari keberadaannya
Bagaikan tertanam bibit bunga hingga tumbuh liar berkembang mekar berduri.

Ku tanya pada hati
ada apa dengan denganmu kini?
Mengapa kau persilahkan rasa yang tak semestinya ada?
Lalu Jawab pada diri ini
Mungkin ini salahku, ku tak bisa menjaga pertemanan ini
salahku yang biarkanmu bersandar dihati dan pikiranku
hingga terbesit ingatan tentang mu yang menjadikanku rindu kan hadirmu yang kini sudah jauh dariku

Tapi..
Ini yang terbaik
Aku menyadari lagi keberadaanku
Aku menyadari dia lebih baik, Parasnyapun begitu cantik
sejajar dengan parasmu yang juga menarik

Jadi Dia lebih pantas bersamamu, bukan aku yang belum lama berada dikehidupanmu
Namun satu hal yang perlu kau tau, ku tak pernah menyesali pertemuan denganmu

Selasa, 18 Maret 2014

Tersipu malu

Terlalu berlebihankah ku menyebut ini rasa cinta
Ataukah ini hanya rasa suka semata
Menyimpan rasa yang berbeda, terhadap seseorang diantara yang lainya

Ketika kedua mata memandang pada satu arah
Hati pun bagaikan bunga yang sedang merekah
Tanpa diminta, senyumanpun hadir diwajah
Dan pipipun kian mulai memerah

Saat kau melangkahkan kaki ke arahku
ku berdiri terpaku
Ingin rasanya tuk menyapamu
Namun apalah dayaku
Lidah mulai terasa kelu
Sanggupku hanya mampu tundukan pandanganku
Hingga kau melewatiku